Laman

Senin, 09 Januari 2017

Bohlam Lama

Ketika tak ada lagi rindu yang benar
Ketika tak ada rindu yang mampu terucap
Debu-debu tersipu malu
Laut tersedu sedan
Rona mu memudar
Cahayamu padam

Sedihku membara 




-astria

Minggu, 01 Januari 2017

-

Tulisan ini saya tujukkan untuk orang-orang yang pernah di dekat saya, baik sebagai teman, sahabat, pacar maupun hubungan senior-junior.
Saya ingin meminta maaf apabila ada kesalahan yang saya lakukan baik disengaja maupun tidak. Ego dan tingkah laku kekanak-kanakan saya mungkin telah membuat kalian muak.
Terimakasih pula telah membantu saya untuk tumbuh menjadi lebih dewasa. Lebih siap menghadapi masalah, menjadi bermurah hati dan berpikiran terbuka.
Saya mengerti apabila sebagian dari kalian masih menyimpan sakit hati akibat perkataan dan perilaku saya. Saya tidak akan memaksa kalian untuk memaafkan kesalahan-kesalahan di masa lampau tersebut. Karena mungkin apa yang telah saya perbuat telah melampaui batas.
Dan saya sudah memaafkan kalian semua.
Ini memang bukan cara meminta maaf yang baik, namun saya berharap kalian mengerti bahwa saya hanya ingin berdamai dengan kalian dan masalalu saya.

Terimakasih.







 Love,
Astria Tiara

Senin, 14 November 2016

20.17

Tak akan pernah ada jalan pulang
Yang kita tuntut setiap detik
Egoku menjebakmu ke dalam luka
Hingga sakit yang kau tangisi
Enggan sembuh
Tetaplah menjadi gerimis di malam-malam
Karena tak ada puisi lagi yang dapat ku tulis
Selain gerimismu




-ast

Minggu, 13 November 2016

22.00

Ini belum lewat tengah malam
Namun aku mulai merindukan senja
Berharap senja berhasil menggarap rindu
Agar ia mau
Hadir dan kembali
Menggembleng asa
Agar ia tak bodoh
Lagi, lagi dan lagi
Agar ia mau 
Menyambut
Langit cerah dan embun fajar


-ast

22.54

Aku akan mencintaimu
Hingga dua atau tiga hari
Walau kau tutup mata dan telingamu
Biarlah hujan meneriakan
Kembalimu
Tuk di nanti setiap malam
Jangan paksa cinta hadir 
Karena ia selalu jatuh untukmu


-ast

Sabtu, 15 Oktober 2016

Stasiun Kota 121


Debu meminta angin datang di stasiun kota
Mengucapkan selamat tinggal
Tanpa pelukan atau senyuman
Dan kereta api melengking lama
Ia marah-marah
Dan tak ada hujan atau pelangi
Kemudian ia pergi
Angin berlalu
Tangis datang
Pelangi porak-poranda
Hanya payung yang menjadi teman

Pada gerimis diakhir malam



astria

Senin, 03 Oktober 2016

Rabu di Bulan Ketiga,1970

Penyendiri bersenandung di balik meja 
Menata rapih kacamata yang patah
Beranjak pergi meraih gemerlap malam
Dengan tangan tersangkut dibelukar
Ia tampak secantik mawar
Terlihat semenggoda wine yang ia teguk
Dengan stilleto merah dan gaun biru yang bangga membalut dosa
Kemudian malam mulai menyelinap pada amarah
Yang menggugurkan daun di musim panas
Menyisakan tangkai tak bertuan
Meleburkan diri pada isakan hujan di malam rabu





astria

Bukan Puisi Patah Hati

Ini bukanlah puisi patah hati
Yang tak pernah ku harapkan
Yang mungkin kau dambakan
Tidak ada jingga atau merah hati yang berturut serta
Warna yang meredup malu untuk disaksikan
Engganmu menyentuh setitik luka yang kau gambar sendiri
Engganku menghapus satu nama yang kau benci
Kini kita menggunung rindu satu sama lain
Rindu yang berbeda,
Rindu dua arah di jalan setapak yang selalu kita lewati
Ingatkan aku ini bukanlah puisi patah hati
Yang tak pernah ku harapkan
Yang tak mungkin kau dambakan






astria

Selasa, 26 April 2016

Selamat Malam, Mentari

Selamat malam, Mentari..
Aku menitipmu pada lautan awan di ujung bibirku
Yang selalu bertanya kemana kau akan pulang malam ini
Mataku masih merekammu di balik daun-daun selimut
Dengan teduh, laut, dan angin
Kita mengendus bau yang sama, Sayang
Kau yang termangu di jendela, dan aku berada di balik jeruji besi
Lukamu, lukaku
Yang kita sama tahu tak ada yang bisa sembuh
Hapus air matamu, Sayang
Karena kita kelak akan bersama
Di bawah nisan dengan namamu dan namaku


astria

Nama

Di sekotak papan aku coba merangkaimu
Dengan bunyi tuts berantakan yang ku mainkan
Kerapkali menggebu dan mengganggu
Kau memintaku seutuhnya
Yang mulai kau sentuh dengan cinta dan dosa
Senja membawa kita meninggalkan bumi
Namun tak ada rasa yang bisa ku sertakan di antara kita
Meskipun telah kau pupuk pohon yang seharusnya tak tertanam




astria

Rabu, 15 Juli 2015

Dan.

Pria yang pernah ku harapkan memberikan sedikit warna untuk hitamnya masalalu
Dengan senyum santun tanpa pamrih yang merekah
Satu-satunya yang masih menganggapku ada
Di saat bumi mulai memusuhiku
Namun aku lupa menoleh padanya
Aku memberikan semanggi ku ke rumput tetangga
Yang hanya di puji sesaat
Lalu dengan santainya ku ambil lagi
Ku taruh di tempat dimana ia dulu seharusnya berada
Belum terlambat untukku menoleh lagi
Setidaknya, aku beruntung kali ini


Astria

Sabtu, 11 Juli 2015

Angin dari Barat

Angin mengetuk pintuku di waktu malam
Memintaku keluar dan berharap pada rembulan
Menyuruhku melabuhkan tinta pena di secarik hati tak berwarna
Hati yang melelapkan angan-angan jingga
Jingga yang sering ia nyanyikan,
Kemudian meredup tanpa pamit
Membawa sebongkah luka dan segenggam hati
Yang terkhianati oleh angin
Angin bilang ia tahu kemana harus pergi
Ketika persimpangan menjadi tempatnya bermain
Kemudian jingga haruslah meredup
Karena angin mulai membicarakan hujan
Yang tak seharusnya mengiringi jingga dalam diam


Astria.

Sabtu, 04 Juli 2015

Untuk Lelaki dari Galaksi Andromeda

Kau ada di ujung kelas berbalut kemeja kumal lusuh berwarna gelap
Yang tak pernah kuketahui keberadaannya
Yang tak pernah kupedulikan ada-tidaknya
Kemudian kau mengamatiku
Membangunkanku dari lamunan panjang yang sedang kunikmati
Kau bertanya cinta padaku
Yang kukira tak mungkin ada
Lalu perlahan kau menjebakku
Membawaku kedalam permainan omong kosongmu
Memenjarakanku dan menuduhku sebagai tersangka utama
Kau melupakan sketsa kecil yang kita buat
Yang pernah membuatku bermanja di dalam buaianmu
Dan kau menghapus pelangi yang dengan susah payah kita warnai
Mungkin maksudmu hanya aku
Tapi aku pernah berharap kalau itu adalah kita
Atau tak pernah ada aku dalam pelangimu?
Lalu bagaimana dengan cinta yang pernah kau janjikan dalam alunan malam?
Kalau begitu biarkan aku yang melanjutkan narasi
Tanpa ada dialog antara kita



Astria.

Senin, 01 Juni 2015

Jendela Fajar

Merpati Putih pernah singgah di depan jendela kita 
Kau pernah menitip cinta padanya
Beserta mawar putih segar yang baru saja kau petik
Bukan janji sesungguhnya yang ingin kau beri 
Hanya khayalan dimasa depan untuk ku kenang dengan seribu omong kosong yang kau beri
Aku pernah menerjang badai yang kukira adalah kita
Ada dan tiadanya cinta tak pernah kau permasalahkan
Jika kau tak mampu sendiri, mengapa harus aku yang kau jadikan sandaran?
Lihatlah, aku mulai merapuh
Tak ada lagi cinta yang menggebu-gebu
Kobaran api terus membakarku hingga meleleh
Dengan tangis dan darah yang mengalir
Segala ketulusan hati kini mulai berkhianat
Menertawakanku di ujung jalan beserta ajudan-nya
Melemparkan kerang hingga luka tak lagi terasa 
Hingga sedih dan tawa menjelma menjadi satu 
Biru tak lagi menghadang kita
Merah tak lagi berbondong-bondong sombong menerpa kita
Hijau-pun enggan untuk datang
Hitam kini siap untuk menyambut 
Menyambut kita di tempat baru yang kelabu dan gulita
Tempat yang tak pernah ingin kita bicarakan 
Sudah saatnya kita pergi dan meninggalkan persimpangan
Hadapilah ini,
Fajar


Astria

Minggu, 17 Mei 2015

Mirror

Kita adalah segelas teh manis hangat
Kau adalah butiran gula
Tentu saja aku gumpalan daun tehnya
Coba kau aduk dengan namamu
Coba kau mulai mengendus harum melatinya
Kau tak perlu menjadi pelayan
Mungkin kau ragu
Iya kau ragu.
Bahkan dalam balutan seragam putih abu yang mulai usang dan sempit
Kita pernah menjadi liar
Entah dalam arti baik atau buruk
Berhentila mengetuk-ngetuk
Kau boleh meneriakan nyanyian hujan
Dengan atau tanpa payung
Tiupkan doamu pada api di atas lilin
Hembuskan namaku dalam doamu
Tahan nafasmu hingga gulita
Akankah kita berdiri di ujung sana suatu hari nanti?

Mungkin kita adalah segelas teh manis hangat
Yang lupa kau aduk dengan namamu
Yang tak pernah kau beri gula
Kita mungkin memang pelayan
Kau tak pernah ragu
Tidak.
Bahkan dalam lilitan kemeja biru muda yang tak pernah ingin kau miliki
Kita pernah menjadi liar
Entah dalam pengertian baik atau buruk
Teruslah mengetuk-ngetuk
Kita akan meneriakan nyanyian hujan
Dengan atau tanpa payung
Mari kita tiupkan doa pada kilatan api
Hembuskan sisa nafas yang selama ini kita simpan
Yakinkan aku kita akan berada diujung sana
Suatu saat nanti

Astria

Selasa, 12 Mei 2015

Fajar

Hitam, tinggi
Anak kecil? Bukan
Menyerupai? Ya tentu saja
Seringai nakal bagai hujan meteor
Terang cukuplah aku
Kau indah, semua tahu
Tertawalah di balik hujan
Galaxy tak akan marah
Genggam aku, bintang
Nyanyikanlah, mainkanlah
Kau tak mungkin lupa
Bintang adalah aku,
Galaxy adalah kita
Tetaplah di sana, Fajar


Astria

Teras Hati

Pedihnya lilin api menyergapku di dalam rintihan hujan
Membakar hati yang baru sembuh
Merajut luka baru bersama selusin bola api
Aku menyantap diriku di perapian
Merangkai ragu sejuta kenangan
Dengan goresan abu hitam sisa semalam
Menari-nari di atas tangisku
Melukis sayatan demi sayatan yang pernah kita gores
Mungkin kau lupa menutup pintu
Hingga angin membawamu kepadaku
Hingga kita terlarut dalam dosa
Kau enggan memberi cinta
Yang pernah kau janjikan di depan senja
Yang bahkan tak pernah terbit
Mungkin kau lupa menutup pintu
Saat hujan mulai mengetuk
Saat malam mulai bertamu
Di teras hatimu



Astria

Minggu, 03 Mei 2015

Bulan dan Dunia

Tiga tangkai bunga layu masih berjajar rapih beserta dengan pitanya. Dua lukisan tua dan dua sketsa usang masih tergantung di dinding. Sebuah novel dan sebuah CD lagu klasik tak pernah berpindah dari tempatnya. Boneka Mickey-pun yang kini berdebu selalu di tempatnya. Inginku mengemas itu semua, menenggelamkan ke dasar laut beserta dengan puing-puing kenangan masa lalu. Aku memejamkan mataku, berusaha tidur bersama bintang. Aku berkhayal tentang banyak hal. Berkhayal tentang ia yang kembali. Berkhayal tentang 'kita' yang sempurna. Berkhayal tentang manis yang terlalu pahit.
Ia memelukku erat. Menggenggamku di bawah payungan lampu kota. Menyanyikan lagu yang seringkali kami nyanyikan. Mencium keningku dengan hangat. Membiarkanku mendekapnya dan terlarut dalam parfumnya. Ia ada disana. Memberikanku sekotak coklat dan sekuntum Edelweiss. Menceritakan tentang dunianya. Memberiku tawa yang pernah hilang, yang telah ku cari selama bertahun-tahun.
Aku mengaguminya, sangat sangat mengaguminya. Tak peduli dengan semua hujatan yang sering orang lontarkan, aku tetap bersamanya. Aku bahkan tak peduli dengannya yang tak sempurna. Aku menginginkannya. Menginginkan ia datang setiap hari menemuiku. Menginginkan dekapannya di kala aku mulai membenci dunia. Menginginkan ia yang menghapus airmataku, terluka bersamaku.
Dan kini, ia ada di depanku. Di dalam khayalanku. Yang inginku raih lagi dengan segala ketidakmungkinannya.

Astria

Minggu, 19 April 2015

Atha

Gulita mulai menyelimuti
Bersama datangnya batu benderang
Aku termangu di bawah sini
Menatap ratusan kilometer ke arah sana
Mendengar celotehan angin
Yang membisik hujatan demi hujatan
Ku tatap hati yang kian membiru
Hingga luka terjadi disana
Kau mengoyaknya
Dengan tinta hitam yang kau dapat darinya
Mencoret semua apa itu mimpi
Kertas putih usang yang kau nodai
Biarlah aku menyimpannya
Di album yang ku bingkai sendiri
Yang hanya ada kau di dalamnya

Astria

Kata Hati Ata

Lampu kota pernah memayungi kita
Menembus malam, melangkahi jalan
Tak ada suara saat itu
Kita pemalu
Tanganmu terus mengetuk
Aku tau kamu gugup
Bagaimana kalau kau tetap disitu?
Percayalah, aku sedang mencari
Mencari cara untuk pulang
Mencarimu dalam setiap tinta pena
Mencarimu dalam setiap lantunan lagu klasik


Astria