Laman

Jumat, 08 Agustus 2014

Hari ke-365



Hari ini adalah hari ke-365 kami berpisah. Tepat hari ini, di sini, di jam dan waktu yg sama. Aku ingat semua tentangnya saat ia masih bersamaku. Tentang bagaimana ia menggenggamku erat selama satu setengah tahun. Tentang bagaimana ia menarik ulur perasaanku saat itu.
365 hari telah ku lalui tanpanya. Mungkin sakit itu masih ada, masih. Luka itupun belum seutuhnya sembuh. Tetes demi tetes air mata masih saja berjatuhan saat melihat bayangnya. Ia sudah terbang terlalu jauh, tak mungkin lagi dapat ku gapai. Meskipun bayang-bayangnya tak pernah pergi.
Telpon genggam ini tak pernah memunculkan lagi namanya. Terkadang, aku menunggu mungkin suatu saat hatinya akan tergerak mengirimkan pesan singkat sekadar bertanya “apa kabarmu?”, “apa saja yang kau lakukan saatku tak lagi denganmu?”, ”selamat malam” atau hanya sekadar “hai”. Ya mungkin nanti, bukan sekarang ataupun besok. Bahkan mungkin aku mengharapkan “late phone calls” darinya. Itulah yang sangat-sangat kurindukan darinya. Bayangkan saja seseorang yang sangat kau cintai menelponmu ketika kamu tengah tertidur lelap hanya untuk bertanya “sudah tidur? Makan sudah? Sudah menyelesaikan tugas-tugasmu?”. Bagaimana senyumku tak merekah mendengar suaranya yang diturunkan beberapa oktaf dan sangat lembut, seolah-olah ia membisikkanku dengan hatinya. Berkata manis dan menyuruhku kembali tidur, dan oh ya, goodnight kisses di setiap akhir panggillan.
Tepat hari ini, di sini, di jam 4 pagi memori-memori bersamanya menari-nari di pikiranku. Seakan-akan mengejekku, memancing emosiku, bahkan menusuk dadaku dengan keindahannya. Tak peduli bagaimana aku berusaha menahannya, ia tetap menari-nari dengan pisaunya dan terus mencabik-cabik hati ini hingga sesak rasanya.
Tak pernah ada lagi bujuk rayunya untuk bernyanyi, menghilangkan amarah, mencium hingga memeluknya. Ntah mengapa tangan ini tak pernah sampai untuk meraihnya lagi. Tak pernah sampai untuk menyentuhnya lagi. Bahkan bibir ini tak sanggup lagi menyebut namanya.
Semua lagu romantis yang pernah ia nyanyikan kini berubah menjadi lantunan menyakitkan. Tak lagi semanis saat sedang ia nyanyikan. Tragis. Hingga akhirnya aku membenci semua lagu romantis.
Aku telah terhapus. Aku telah terlupakan dari segala kenangan manis yang pernah kami ukir, yang pernah kami gambarkan, hingga kami nyanyikan. Aku tak pernah ada lagi di setiap ceritanya. Aku tak pernah bisa lagi memamerkan kemesraan bersamanya. Aku tak pernah bisa lagi mengharapkannya di sini. Karna aku, telah terlupakan.



astria

Senin, 07 Juli 2014

Kopi dan Teh



Secangkir kopi dan teh yang ku pesan baru saja datang tepat bersamaan dengan kedatangan pria bergitar yang kutunggu sejak sejam yang lalu. Bajunya tampak kusut saat ia melepaskan jaket parasut yang ku belikan. Celana dasar berwarna hitam yang ia kenakanpun terlihat tak lagi bernyawa tertimpa air hujan. Tampilannya sangat berantakan berbeda dari biasanya.
Ia tersenyum memamerkan lesung pipi sambil menyapaku. Matanya berbinar, terpancar jelas ada kebahagiaan di matanya. Ia bergegas menuju kearahku yang saat ini duduk di pojok cafe, tempat kesukaan kami berdua. Tempat ini tergolong kecil. Hanya ada beberapa meja yang di sediakan untuk 2 atau 3 orang.
“Teh manis, seperti biasa hahah..” ledeknya.
“Kopi manis juga seperti biasa tuan muda, hahah..” balasku.
Ia menyesap kopinya sambil menatapku genit. Entah mengapa, kulakukan hal serupa pula, menyeruput teh manisku sambil menahan senyum. Dengan usil salah satu pelayan berdeham lalu tertawa. Lantas saja membuat pipiku menghangat. Pasti pipiku memerah. Tertawa terbahak-bahaklah lelaki berkacamata di hadapanku ini membuatku semakin tersipu olehnya.
Ia mencubit pipiku, mungkin gemas melihatku yang salah tingkah. Matanya menyipit kala ia tersenyum. Mungkin seharusnya aku yang gemas terhadapnya. Terhadap pipinya, perilaku bodohnya, dan mata kecilnya.
Sebuah lagu bertema Romance terlantun di cafe kecil bernuansa klasik ini. Ia bernyanyi Lipsinc seolah-olah sedang berusaha merayuku menggunakan lagu. Diambilnya roti gandum sebagai mic dan bunga yang ada di vas seakan-akan ia sedang bermain film. Semakin gila aku dibuatnya.
Ia tak pernah kehabisan akal untuk menggodaku. Bahkan ia selalu memiliki cerita menarik yang ia bagikan padaku. Berbagi apapun yang ia punya denganku.
Tak terasa hari semakin malam. Ku seruput tehku sampai habis. Ku lirik jam di tangan, Pukul 20.00 sudah saatnya pulang. Dengan malas aku merapihkan barang bawaanku dan pamit pulang. Rayuan manjanya yang memintaku untuk tetap tinggal dan duduk sebentar lagi tak mungkin bisa di tolak.
Ia bangun dari kursinya dan menarikku menuju parkiran. Aku terdiam menatapnya heran karna terkejut dengan perilakunya. Ia memelukku erat-erat, kubalas pula pelukkan itu. Tak perlu banyak kata untuk menjelaskan apa-apa. Seolah-olah hati kami saling bicara tentang apa yang kami rasakan.
Ia mengecup keningku, ku tatap ia beberapa detik lalu bergegas pergi.  Aku berjalan meninggalkannya yang masih berdiri di depan sedan tua kesayangannya. “Aku menyayangimu!” teriaknya. Membuat langkahku terhenti dan menoleh. Aku juga menyayangimu, bisikku dalam hati yang lalu berbalik badan dan menahan senyum.



astria

Jumat, 27 Juni 2014

Kejora



Pria tinggi hitam manis dihadapanku ini memang kerap kali menjahiliku. Ia tak segan menjitak, menjambak bahkan memitingku. Dia lucu. Aku tahu. Tergolong culun. Aku tahu. yah entahlah mungkin karena kami terbiasa bersama akhir-akhir ini kami menjadi lebih dekat. Bukan bukan, bukan sebagai teman dekat. Hmm, mungkin h-t-s, oh bukan bukan, hanya teman. Teman.
Ok well, sekarang dari mana aku harus memulai? Jadi pria tinggi hitam manis ini mulai mendekatiku. Tentu saja dengan senang hati aku membuka diri. Dia baik, cukup tinggi, manis, pintar, dan cukup lugu. Tapi ada sesuatu yang keliru di sini. Dia telah memiliki kekasih.
Sering kali aku mengamati wajahnya. Memperhatikan bagaimana mata dan bibir tipisnya berbicara kepadaku. Sungguh tak bisa kupungkiri, aku luluh akan tatapan matanya. Matanya memang tidak tajam, tidak pula tegas seperti kebanyakan lelaki, tapi.. ohh.. sungguh memikat!!
Aku suka cara dia memikatku. Menatapku dalam-dalam dan berceloteh tentang apa saja sambil menunggu makanan datang. Saling memberi isyarat yah you-know-lah ketika sepasang lawan sejenis saling tertarik.
Namun kini, waktunya aku untuk mundur. Membiarkan wanita lain memilikinya seutuhnya. Sudah cukup kurasa untuk bermain-main dengannya beberapa waktu ini. Bukannya aku tak mau melanjutkan ini, sungguh mati aku mau. Namun aku hanya tak bisa. Tak mungkin kurasa untuk bersatu.
Biarlah cerita cinta ini tumbuh dalam angan-angan. Bahagianya, bahagiaku pula. Aku berjanji akan mendoakan yang terbaik untuknya.
Mungkin sekarang, aku memang belum bisa berbagi kasih dengannya, tetapi nanti, giliran aku dan dia yang akan bercerita.





astria

Jumat, 25 April 2014

Kertas Partitur

Kertas usang tua berisi coretan lamaku tercecer berantakan di lantai kelas bahasa Inggris. Sore itu, hanya lelaki kecil perawakan Jawa yang ada di dalam kelas. Ia tak peduli bagaimana raut wajahku yang kian mengkerut memelototinya. ipod silver di tangannya sangat menyorot perhatiannya. Aku tak pernah tahu ia atau bukan yang membuat tempat dudukku banjir akan kertas, tapi aku tetap menyalahkannya.
Keesokan harinya, semakin parah, kertas-kertas berisi partitur yang biasanya tersimpan rapih di dalam loker kini jatuh  berserakan di atas meja. Dan hanya ada lelaki itu di dalam kelas. Aku memarahinya dan menyalahkannya. Ia menatapku penuh rasa heran. Lalu ia pergi tanpa menghiraukan ocehan panjang-lebar yang aku lontarkan. Aku semakin geram di buatnya.
Hari-hari setelahnya kami bagaikan blok sentral dan blok sekutu. Kami saling bermusuhan dan tak pernah bersikap baik selayaknya anak kecil. Ya, baju putih-biru yang saat itu masih kami kenakan tak bisa berbohong akan sikap kami yang kekanak-kanakan. Insiden berebut tempat duduk dan perhatian guru-pun sering kali kami alami. Hingga satu saat, aku merasa bahwa hal ini sangat menyenangkan. Tiba-tiba saja hari-hari setelahnya aku ingin terlihat lebih manis dihadapannya. Kukenakan bando Pink yang selama ini ku anggap menjijikkan. Entahlah, ada perasaan gelisah dalam dada setiap kali akan bertemu dengannya.
Ia tak pernah tahu hubungan blok sentral-dan-blok sekutu ini mampu mengubah sikap, hati bahkan pikiranku terhadapnya. Aku mulai mencari tahu tentang kehidupannya. Mengintip lagu apa yang biasa ia dengarkan. Bahkan mencoba hal-hal yang ia geluti. sebisa mungkin aku berusaha agar tetap di dekatnya tanpa mendekatinya, berusaha menjaganya tanpa menjaganya.
Aku tetap menjaga jarak. Memperhatikan ia dari jarak 5 meter lebih baik daripada ia benar-benar berada disampingku. Bukannya aku tak percaya diri, namun aku tahu diri. Lagi pula, dengan begini aku bisa lebih leluasa memandanginya. Oh Tuhan, mengapa senyumnya begitu manis dibanding teh di sore hari? Kini aku benar-benar menggilainya. Mulai ada perasaan rindu menghampiri meskipun aku hanya mengaguminya dari jauh
astria                         

Jumat, 07 Maret 2014

Semanis Cokelat

Setiap sudut kota ini memiliki kisah manis tentang cinta yang mulai terangkai sejak  kami duduk di bangku SMA. Tak ada perasaan aneh sebelumnya, atau hanya kami yang tak menyadarinya. Entahlah,yang aku tau kisah ini indah.
Kami saling mengenggam satu sama lain. Tangan ini terasa pas di tangannya. Hangat. Lembut. Seolah tak lagi ingin berpisah. Tatapan iri bahkan dengki sering kali menghujat hubungan indah ini. Ia selalu meyakinkanku bahwa tak akan ada hal buruk menimpaku. Aku percaya padanya, sangat percaya.
Ia tak pernah berlaku buruk padaku. Aku bagaikan seorang putri raja di hadapannya. Ia tak sungkan mengambilkanku secangkir, dua cangkir, bahkan bercangkir-cangkir minuman di setiap pesta. Aku tau ia menyayangiku, akupun begitu.
Terkadang, aku merasa tak pantas untuknya. Aku tak pernah membalas ribuan bunga darinya, bahkan memberikan surprice kecil di hari bertambah umurnya pun aku tak pernah. Namun, ia tak pernah kecewa akan hal itu. Asalkan aku ada untuknya, itu sudah cukup ujarnya.
Kafe kecil bernuasa Eropa di sudut kota ini adalah tempat favoritnya. Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam di sini hanya demi semangkuk kecil lasagna kesukaannya. Aku selalu senang saat ia memintaku untuk menemaninya di sini. Aku bisa memandanginya lebih lama dengan jarak yang sangat dekat. Sesekali ku usap bibirnya saat saus bolognese mengotori bibir mungilnya. Dan ia akan tertawa karenanya.
Aku adalah aku dihadapannya. Aku bebas melalukan apapun yang aku mau. Sesekali ia memarahiku saat aku bersikap di ambang batas kewajaran, tak lebih dari sepersekian detik ia lalu memelukku. Aneh bukan? Ia tak membiarkanku menjatuhkan sedikitpun air mata dihadapannya. Ia menyayangiku, aku tau itu.
Ia tau bagaimana cara bersenang-senang, ia tau cara membuatku tertawa lepas, ia tau bagaimana cara menyayangiku dengan benar.  Bagaimana mungkin aku melepaskan orang yang menyayangiku melebih dirinya sendiri. Ia benar-benar membuatku merasa hidup, dan aku takkan melepaskannya.
Jutaan kasih sayang yang ia berikan seakan tak ada habisnya. Wanita mana yang akan meragu menghadapi malaikat tampan nan baik hati sepertinya? Kurasa tak ada. Aku takut suatu saat tak ada lagi malaikat itu disisiku, untukku, yang selalu ada untukku. Bukankah semanis apapun cokelat pasti akan kadaluwarsa juga? Bagaimana kalau cintanya yang justru kadaluwarsa? Aku pernah membayangkan ini sebelumnya, dan aku menyesal memikirkannya.
astria