Hitam, tinggi
Anak kecil? Bukan
Menyerupai? Ya tentu saja
Seringai nakal bagai hujan meteor
Terang cukuplah aku
Kau indah, semua tahu
Tertawalah di balik hujan
Galaxy tak akan marah
Genggam aku, bintang
Nyanyikanlah, mainkanlah
Kau tak mungkin lupa
Bintang adalah aku,
Galaxy adalah kita
Tetaplah di sana, Fajar
Astria
Selasa, 12 Mei 2015
Teras Hati
Pedihnya lilin api menyergapku di dalam rintihan hujan
Membakar hati yang baru sembuh
Merajut luka baru bersama selusin bola api
Aku menyantap diriku di perapian
Merangkai ragu sejuta kenangan
Dengan goresan abu hitam sisa semalam
Menari-nari di atas tangisku
Melukis sayatan demi sayatan yang pernah kita gores
Mungkin kau lupa menutup pintu
Hingga angin membawamu kepadaku
Hingga kita terlarut dalam dosa
Kau enggan memberi cinta
Yang pernah kau janjikan di depan senja
Yang bahkan tak pernah terbit
Mungkin kau lupa menutup pintu
Saat hujan mulai mengetuk
Saat malam mulai bertamu
Di teras hatimu
Astria
Membakar hati yang baru sembuh
Merajut luka baru bersama selusin bola api
Aku menyantap diriku di perapian
Merangkai ragu sejuta kenangan
Dengan goresan abu hitam sisa semalam
Menari-nari di atas tangisku
Melukis sayatan demi sayatan yang pernah kita gores
Mungkin kau lupa menutup pintu
Hingga angin membawamu kepadaku
Hingga kita terlarut dalam dosa
Kau enggan memberi cinta
Yang pernah kau janjikan di depan senja
Yang bahkan tak pernah terbit
Mungkin kau lupa menutup pintu
Saat hujan mulai mengetuk
Saat malam mulai bertamu
Di teras hatimu
Astria
Minggu, 03 Mei 2015
Bulan dan Dunia
Tiga tangkai bunga layu masih berjajar rapih beserta dengan pitanya. Dua lukisan tua dan dua sketsa usang masih tergantung di dinding. Sebuah novel dan sebuah CD lagu klasik tak pernah berpindah dari tempatnya. Boneka Mickey-pun yang kini berdebu selalu di tempatnya. Inginku mengemas itu semua, menenggelamkan ke dasar laut beserta dengan puing-puing kenangan masa lalu. Aku memejamkan mataku, berusaha tidur bersama bintang. Aku berkhayal tentang banyak hal. Berkhayal tentang ia yang kembali. Berkhayal tentang 'kita' yang sempurna. Berkhayal tentang manis yang terlalu pahit.
Ia memelukku erat. Menggenggamku di bawah payungan lampu kota. Menyanyikan lagu yang seringkali kami nyanyikan. Mencium keningku dengan hangat. Membiarkanku mendekapnya dan terlarut dalam parfumnya. Ia ada disana. Memberikanku sekotak coklat dan sekuntum Edelweiss. Menceritakan tentang dunianya. Memberiku tawa yang pernah hilang, yang telah ku cari selama bertahun-tahun.
Aku mengaguminya, sangat sangat mengaguminya. Tak peduli dengan semua hujatan yang sering orang lontarkan, aku tetap bersamanya. Aku bahkan tak peduli dengannya yang tak sempurna. Aku menginginkannya. Menginginkan ia datang setiap hari menemuiku. Menginginkan dekapannya di kala aku mulai membenci dunia. Menginginkan ia yang menghapus airmataku, terluka bersamaku.
Dan kini, ia ada di depanku. Di dalam khayalanku. Yang inginku raih lagi dengan segala ketidakmungkinannya.
Astria
Ia memelukku erat. Menggenggamku di bawah payungan lampu kota. Menyanyikan lagu yang seringkali kami nyanyikan. Mencium keningku dengan hangat. Membiarkanku mendekapnya dan terlarut dalam parfumnya. Ia ada disana. Memberikanku sekotak coklat dan sekuntum Edelweiss. Menceritakan tentang dunianya. Memberiku tawa yang pernah hilang, yang telah ku cari selama bertahun-tahun.
Aku mengaguminya, sangat sangat mengaguminya. Tak peduli dengan semua hujatan yang sering orang lontarkan, aku tetap bersamanya. Aku bahkan tak peduli dengannya yang tak sempurna. Aku menginginkannya. Menginginkan ia datang setiap hari menemuiku. Menginginkan dekapannya di kala aku mulai membenci dunia. Menginginkan ia yang menghapus airmataku, terluka bersamaku.
Dan kini, ia ada di depanku. Di dalam khayalanku. Yang inginku raih lagi dengan segala ketidakmungkinannya.
Astria
Minggu, 19 April 2015
Atha
Gulita mulai menyelimuti
Bersama datangnya batu benderang
Aku termangu di bawah sini
Menatap ratusan kilometer ke arah sana
Mendengar celotehan angin
Yang membisik hujatan demi hujatan
Ku tatap hati yang kian membiru
Hingga luka terjadi disana
Kau mengoyaknya
Dengan tinta hitam yang kau dapat darinya
Mencoret semua apa itu mimpi
Kertas putih usang yang kau nodai
Biarlah aku menyimpannya
Di album yang ku bingkai sendiri
Yang hanya ada kau di dalamnya
Astria
Bersama datangnya batu benderang
Aku termangu di bawah sini
Menatap ratusan kilometer ke arah sana
Mendengar celotehan angin
Yang membisik hujatan demi hujatan
Ku tatap hati yang kian membiru
Hingga luka terjadi disana
Kau mengoyaknya
Dengan tinta hitam yang kau dapat darinya
Mencoret semua apa itu mimpi
Kertas putih usang yang kau nodai
Biarlah aku menyimpannya
Di album yang ku bingkai sendiri
Yang hanya ada kau di dalamnya
Astria
Kata Hati Ata
Lampu kota pernah memayungi kita
Menembus malam, melangkahi jalan
Tak ada suara saat itu
Kita pemalu
Tanganmu terus mengetuk
Aku tau kamu gugup
Bagaimana kalau kau tetap disitu?
Percayalah, aku sedang mencari
Mencari cara untuk pulang
Mencarimu dalam setiap tinta pena
Mencarimu dalam setiap lantunan lagu klasik
Astria
Menembus malam, melangkahi jalan
Tak ada suara saat itu
Kita pemalu
Tanganmu terus mengetuk
Aku tau kamu gugup
Bagaimana kalau kau tetap disitu?
Percayalah, aku sedang mencari
Mencari cara untuk pulang
Mencarimu dalam setiap tinta pena
Mencarimu dalam setiap lantunan lagu klasik
Astria
Langganan:
Postingan (Atom)