Tiga tangkai bunga layu masih berjajar rapih beserta dengan pitanya. Dua lukisan tua dan dua sketsa usang masih tergantung di dinding. Sebuah novel dan sebuah CD lagu klasik tak pernah berpindah dari tempatnya. Boneka Mickey-pun yang kini berdebu selalu di tempatnya. Inginku mengemas itu semua, menenggelamkan ke dasar laut beserta dengan puing-puing kenangan masa lalu. Aku memejamkan mataku, berusaha tidur bersama bintang. Aku berkhayal tentang banyak hal. Berkhayal tentang ia yang kembali. Berkhayal tentang 'kita' yang sempurna. Berkhayal tentang manis yang terlalu pahit.
Ia memelukku erat. Menggenggamku di bawah payungan lampu kota. Menyanyikan lagu yang seringkali kami nyanyikan. Mencium keningku dengan hangat. Membiarkanku mendekapnya dan terlarut dalam parfumnya. Ia ada disana. Memberikanku sekotak coklat dan sekuntum Edelweiss. Menceritakan tentang dunianya. Memberiku tawa yang pernah hilang, yang telah ku cari selama bertahun-tahun.
Aku mengaguminya, sangat sangat mengaguminya. Tak peduli dengan semua hujatan yang sering orang lontarkan, aku tetap bersamanya. Aku bahkan tak peduli dengannya yang tak sempurna. Aku menginginkannya. Menginginkan ia datang setiap hari menemuiku. Menginginkan dekapannya di kala aku mulai membenci dunia. Menginginkan ia yang menghapus airmataku, terluka bersamaku.
Dan kini, ia ada di depanku. Di dalam khayalanku. Yang inginku raih lagi dengan segala ketidakmungkinannya.
Astria
Minggu, 03 Mei 2015
Minggu, 19 April 2015
Atha
Gulita mulai menyelimuti
Bersama datangnya batu benderang
Aku termangu di bawah sini
Menatap ratusan kilometer ke arah sana
Mendengar celotehan angin
Yang membisik hujatan demi hujatan
Ku tatap hati yang kian membiru
Hingga luka terjadi disana
Kau mengoyaknya
Dengan tinta hitam yang kau dapat darinya
Mencoret semua apa itu mimpi
Kertas putih usang yang kau nodai
Biarlah aku menyimpannya
Di album yang ku bingkai sendiri
Yang hanya ada kau di dalamnya
Astria
Bersama datangnya batu benderang
Aku termangu di bawah sini
Menatap ratusan kilometer ke arah sana
Mendengar celotehan angin
Yang membisik hujatan demi hujatan
Ku tatap hati yang kian membiru
Hingga luka terjadi disana
Kau mengoyaknya
Dengan tinta hitam yang kau dapat darinya
Mencoret semua apa itu mimpi
Kertas putih usang yang kau nodai
Biarlah aku menyimpannya
Di album yang ku bingkai sendiri
Yang hanya ada kau di dalamnya
Astria
Kata Hati Ata
Lampu kota pernah memayungi kita
Menembus malam, melangkahi jalan
Tak ada suara saat itu
Kita pemalu
Tanganmu terus mengetuk
Aku tau kamu gugup
Bagaimana kalau kau tetap disitu?
Percayalah, aku sedang mencari
Mencari cara untuk pulang
Mencarimu dalam setiap tinta pena
Mencarimu dalam setiap lantunan lagu klasik
Astria
Menembus malam, melangkahi jalan
Tak ada suara saat itu
Kita pemalu
Tanganmu terus mengetuk
Aku tau kamu gugup
Bagaimana kalau kau tetap disitu?
Percayalah, aku sedang mencari
Mencari cara untuk pulang
Mencarimu dalam setiap tinta pena
Mencarimu dalam setiap lantunan lagu klasik
Astria
Kamis, 01 Januari 2015
Monolog
Hey cinta!
Katakan saja bila kau lapar
Katakan saja bila kau terluka
Aku takkan mengejekmu
Jangan khawatir
Ini bukan salahmu
Ia memang berdosa
Lalu kau masih menunggunya?
Kurasa tidak
Jujur saja
Aku tau kau merasakannya
Jangan ragu
Aku di belakangmu
Lihat, aku tak pernah pergi
Bahkan ketika mentari tenggelam
Coba kau dengar bunyi hujan
Kau tak perlu meneteskan airmatamu
Disini saja sudah cukup
Kau tak perlu lagi menghitung bintang
Biar aku yang menghitungnya untukmu
Ini memang untuk kau simpan
Bukan berarti kau boleh merusaknya
Jangan lagi menyendiri
Katamu kau pernah menjadi senja
Mengapa kau berhenti?
Ah, mungkin kau hanya lelah
Kalau begitu aku akan terus menatap langit
Tak perlu berterimakasih
Ini memang tugasku
Tidak, tolong jangan berpikir demikian
Aku menyayangimu
Tolong dengarkan aku
Sejenak saja
Hingga kau tak lagi lapar
Atau kehausan
Atau malah sengsara
Mari kita meghitung mundur
5..4..3..2..
Tunggu, tunggu
Ia tetaplah di situ
Kumohon jangan beranjak
Lihat refleksimu di air
Kau terlihat pucat
Bahkan dalam balutan sehelai kain sekalipun
Rasanya pasti sakit
Aku tau
Sudah jangan dipikirkan
Mungkin nanti bisa kita diskusikan
Percuma berucap selamat tinggal
Kau kira itu cukup?
Dasar bocah
Sudah telan saja
Berhentilah mengasihani diri sendiri
Kau terlalu naif
Kau tau?
astria
Katakan saja bila kau lapar
Katakan saja bila kau terluka
Aku takkan mengejekmu
Jangan khawatir
Ini bukan salahmu
Ia memang berdosa
Lalu kau masih menunggunya?
Kurasa tidak
Jujur saja
Aku tau kau merasakannya
Jangan ragu
Aku di belakangmu
Lihat, aku tak pernah pergi
Bahkan ketika mentari tenggelam
Coba kau dengar bunyi hujan
Kau tak perlu meneteskan airmatamu
Disini saja sudah cukup
Kau tak perlu lagi menghitung bintang
Biar aku yang menghitungnya untukmu
Ini memang untuk kau simpan
Bukan berarti kau boleh merusaknya
Jangan lagi menyendiri
Katamu kau pernah menjadi senja
Mengapa kau berhenti?
Ah, mungkin kau hanya lelah
Kalau begitu aku akan terus menatap langit
Tak perlu berterimakasih
Ini memang tugasku
Tidak, tolong jangan berpikir demikian
Aku menyayangimu
Tolong dengarkan aku
Sejenak saja
Hingga kau tak lagi lapar
Atau kehausan
Atau malah sengsara
Mari kita meghitung mundur
5..4..3..2..
Tunggu, tunggu
Ia tetaplah di situ
Kumohon jangan beranjak
Lihat refleksimu di air
Kau terlihat pucat
Bahkan dalam balutan sehelai kain sekalipun
Rasanya pasti sakit
Aku tau
Sudah jangan dipikirkan
Mungkin nanti bisa kita diskusikan
Percuma berucap selamat tinggal
Kau kira itu cukup?
Dasar bocah
Sudah telan saja
Berhentilah mengasihani diri sendiri
Kau terlalu naif
Kau tau?
astria
Kamis, 16 Oktober 2014
Bersebrangan
sayup-sayup mata menatap curiga
bertanya heran berujar makna
lepas landas menuju tujuan
tak satupun kata terucap cukup lama
hanya tawa yang terlontar mengaku bahagia
mengubur tangis, menyimpan duka
bukan salah kejora kalau begitu
orang gila tersenyum gila
tak ingin hidup, takut kematian
ingin bergurau namun lidah selalu kelu
kala aku mengamatinya
ia mulai melirik-lirik
mungkin malu atau gengsi?
melontarkan pandangan kesana kemari
bagai takut beradu mata
hanya ada kau dan aku bersebrangan
Astria
bertanya heran berujar makna
lepas landas menuju tujuan
tak satupun kata terucap cukup lama
hanya tawa yang terlontar mengaku bahagia
mengubur tangis, menyimpan duka
bukan salah kejora kalau begitu
orang gila tersenyum gila
tak ingin hidup, takut kematian
ingin bergurau namun lidah selalu kelu
kala aku mengamatinya
ia mulai melirik-lirik
mungkin malu atau gengsi?
melontarkan pandangan kesana kemari
bagai takut beradu mata
hanya ada kau dan aku bersebrangan
Astria
Langganan:
Postingan (Atom)